Cerita Pengalaman Kerja di Korea

pengalaman kerja di korea

12 bulan sudah berlalu 4musim sudah berganti. Seneng sih jadi sisanya tinggal 1.448 hari lagi haha konyol J. Wow. Kerjaan sudah mulai nyaman timwork juga mulai kompak. Pak tua makin akrab, hingga tiap jam makan sore selalu aja datang ke room gue minta makanan entah apapun itu. Bahkan saat gue laporan sore (asyar) ditungguin loh sampai gue selesai. Hanya demi untuk minta dua kerupuk ikan tengiri. haha

Ini Cerita Pengalaman Saya di Korea

Makin kesini makin sibuk banget tuh kerjaan. Hampir tiap hari kerja 14-15 jam. Sampai-sampai badan itu mati rasa saking lelah letih capek yang menggunung. Pagi – bangun – kerja – makan – tidur – pagi lagi! gitu aja rutintas hampir dua tahun ini. Jika kelihatan ni ya kepala gue ni macem menopang tu gunung merapi dah. Banyak sekali pikiran, rencana, kemauan, cita-cita, yang telah tertulis namun hanya muter-muter di otak saja yang pada akhirnya rontok bersama rambut-rambut usang gue ini.

Hari minggu masih sering merapat ke basecamp IKMI datang juga ke kelas bahasa meski banyakan bolos nya sih kesisni sini, alasannya ini dan itu banyak banget meski sejujurnya makes! Haha. Kadang satu-satunya hari free gue dalam sepekan itu ingin gue habiskan untuk sendiri nongkrong di tempat-tempat yang agak-agak gak ngehits bahkan norak menurut sebagian nitijen kalau hanya sendirian. Tapi entah kenapa meskipun sendiri gue nggak merasa sendirian disana, serasa nge-charging energy aja. Ya paling tidak bisa kuat menjadi bekal sepekan kedepan untuk melalui padat dan penatnya rutinitas robot gue itu.

Terkadang gue lari ke pasar (Doengdaemun) ngikutin orang jualan, ke sungai (Han) liatin anak-anak kecil bermain-main riang dengan orang mereka, ke taman-taman kota, banyak sekali orang-orang yang juga menikmati hari libur mereka, remaja-remaja and the genk, anak kuliahan, sejoli yang lagi kasmaran, yang lagi bermasalah dan berantem or putus dengan pasangannya sampai nangis sambil gulung-gulung juga banyak sekali gue temui disana. Gue nunduk dan nyengir ketawa bodoh. This life.

Dan yang paling seru adalah deretan lansia-lansia yang ngumpul macem reunian dengan kolega jaman-jaman sekolah mereka dulu. Si kakek-kakek ni ya berpakain necis berjas dan berdasi ala-ala Korean-style gitu, terus si nini-nini juga gak mau kalah mereka ber make-ap ala-ala Korean-beauty gitu, kadang-kadang saking liarnya mereka sampai kebablasan menor gak ketulungan, tapi lucu. Dan satu lagi hair-stayle ajumma-deul seantero Korea itu sama! Kompak bergaya brokoli (pendek dan di kriting). Duduk melingkar, played lagu-lagu Korea klasik gitu. Duh sumpah gue nyengir-nyegir sendiri mem-framing moment itu semua entahapa yang ada di otak gue.

Sepekan itu tujuh hari, senin ke sabtu itu seperti mendaki gunung merbabu dan butuh waktu 5 hari. Sehingga sangat sangat di sayangkan sekali jika waktu 24jam itu hanya dihabiskan tidur dirumah saja. Sementara minggu ke senin itu hanya butuh waktu 1 hari? Itu tuh berasa sekejap saja tau! Kenapa? Why? This is the silliest question ever sih, tapi selalu gue tanyakan meski bantal, guling, slimut, makser, topi, dinding-dinding sebelah dan bahkan pintu kamar yang selalu gue lewatin setiap hari tuh, baik berangkat dan pulang kerja pun gak bisa jawab itu semua. Ok fine, shut the door turn light off bed time!

Gue selalu teringat amanah Malaikat (ibu’) gue. “Dimanapun kita berada jangan pernah tinggalkan 5-waktu karena itu yang membedakan kita dengan gologan yang lain”. Di tempat kerja si selalu aman terkendali. Pas kondisi diluar begini nih yang kadang-kadang bahkan sering kelewatan. Dan ini menjadi tantangan tersendiri, dan dua tahun kelayaban di Korea gue sudah menemukan beberapa spot untuk “mojok” diberbagai tempat.

Saat window-shopping di mall, gue cari restroom di lantai paling atas yang bisa dipastikan sepi dan aman buat ambil air wudhu. Lanjut menuju tangga darurat antar floor dan disitulah tempat “laporan” paling aman saat hang-out di mall.

Saat jalan ke taman-taman kota, traditional market or sungai-sungai cantik itu justru lebih mudah. Ambil airwudhu di the nearst public restroom pastikan cara wudlu kita tidak menimbulkan kecurigaan native ya. Maklum mereka masih premature dengan akan dunia Islam. Berwudlu dengan masih memakai kaos kaki bakal banyak kita praktikkan. Then, cari tempat agak lapang dan jauh dari pantauan dan jangkauan mata orang-orang. Insyaallha aman, ya paling-paling kalau kepergog orang malah di videoin entar haha.

Yang paling susah itu saat berada di dalam station si menurut gue. Karena tempatnya bisa dipastikan padet terus. Bagaimanapun itu sebisa mungkin aktifitas (sholat) kita juga tidak mengganggu kegiatan juga pandangan orang lain. Gue lebih suka keluar dulu dari station cari tempat agak tenang dari pada memaksakan diri dan keadaan.

Dan yang paling ekstrim lagi adalah saat berada di Norebang (karaoke) pernah suatu ketika dalam kondisi demikian. Udah semua pada mabok, mau minta pulang gak pada mau nagnter pulang. Walhasil gue minta izin ke si penjaga untuk “laporan” di kamar yang sedang kosong, kadang-kadnag berhasil terkadang juga zonk dan terpaksa harus laporan di gudang yang super sempit buat sujud saja ngap-ngapan.

Baca cerita pengalaman kerja lainnya di tipkerja

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *